Bukittinggi City

Senin, 21 Februari 2011

Hubungan Cara Belajar dan Cara Asuh Orang Tua Terhadap Anak Di Bangku Sekolah Dasar

Dewasa ini, banyak cara belajar anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar. Mereka tidak hanya belajar mendengar, menulis, dan mengerjakan soal-soal dari guru mereka yang ada di sekolah, mereka juga mengikuti belajar di luar pekarangan sekolah, seperti les private, mengikuti bimbingan belajar, bahkan rutinitas belajar hampir setiap hari mereka lakukan.
Pada zaman globalisasi ini, mereka di tuntut oleh banyak pihak, untuk dapat meraih ilmu dan cita-cita setinggi-tingginya. Di balik kepolosan mereka yang tidak tahu akan pentingnya belajar, pergi ke sekolah, mengikuti pelajaran tambahan lainnya di luar sekolah, membuat mereka patuh kepada orang terdekatnya,orang tua.
Saat ini, banyak kita menemukan siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah dasar, memakai kacamata dan membawa tas yang isinya berbagai macam buku, tak kalah lengkapnya dari perpustakaan. Semuanya ini, tidak jauh dari peran orang tua mereka. Yang mana para orang tua mendidik mereka dengan pola asuh yang salah. Mereka selayaknya bermain, memiliki kebebasan yang luas, menikmati hidup di masa kecilnya, terhalang oleh ajaran orang tua yang salah.
Belum saatnya mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar, berkutat setiap harinya dengan belajar, belajar, dan belajar. Bahkan, rutinitas tersebut mereka lakukan di hari minggu juga.
Banyak teori yang menyampaikan anak-anak di didik atau di asuh sewajarnya, disesuaikan dengan umur, jenjang pendidikan, dan jangan merebut atau menganggu masa-masa mereka menimati hidup sebagai anak-anak.
Mungkin semua ini akibat dari pengetahuan orang tua yang salah kaprah, yang menginginkan anak-anak mereka selalu menjadi juara satu bahkan juara umum. Benar, setiap orang tua menginginkan putra-putri kesayangannya menjadi orang yang berguna dan mengangkat derajat orang tua. Tapi dengan cara pola asuh yang salah, kelak mereka cepat stress dan bisa memicu timbulnya penyakit stroke.
Michael Jackson, contohnya, dari kecil yang seharusnya bisa bermain bersama teman-teman seusianya, direbut dan direnggut oleh ayahnya untuk bernyanyi setiap hari. Benar, apa yang diajarkan oleh orang tua MJ tidak salah, dan MJ menjadi The King Of Pop, dan itupun bersifat sementara, dia menghembuskan nafas terakhirnya pada usia yang masih muda.
Masih banyak contoh pola asuh orang tua yang salah, yang tak kalah mengerikan lagi.
Semoga para orang tua, mendidik atau mengasuh putra-putri kesayangannya dengan cara yang baik dan benar.

Sabtu, 12 Februari 2011

Inquiring??


   Rasa ingin tahu merupakan tabiat manusia yang hirarki dan sudah dimulai semenjak kita lahir. Tabiat ingin tahu manusia terhadap sesuatu didorong oleh anugerah tertinggi Maha Pencipta kepada manusia, yaitu dengan pemberian “akal - pikiran” yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lainnya selain manusia. Karena itu manusia juga menyebut dirinya sebagai homo sapiens, yaitu makhluk berpikir. Dengan akal pikiran ini pula manusia dapat mengungguli semua makhluk ciptaan Tuhan. Akal - pikiran yang dimiliki oleh manusia, menyebabkan manusia dapat menciptakan pengetahuan baik secara konkret atau abstrak, maupun secara teori atau praktek, namun bukan jaminan bagi manusia memiliki pengetahuan tersebut.
   Manusia memperoleh pengetahuan melalui dua fase, yaitu Fase Pemberitahuan dan Fase Pengalaman. Fase Pemberitahuan didapatkan dari individu dan disampaikan ke individu lainnya. Seperti contohnya, seorang dosen menyampaikan ilmu yang dia peroleh kepada mahasiswa dan mahasiswa itulah yang mendapatkan ilmu secara pemberitahuan. Sedangkan Fase Pengalaman, manusia belajar dari jalan kehidupannya, setiap detiknya merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk dijadikan acuan untuk lebih baik di masa yang akan datang.
   Pada Fase lain, manusia terus mengembangkan pengetahuannya dan dalam hal pengembangan, baik yang bersumber dari pemberitahuan maupun pengalaman tadi, yang pastinya banyak dipengaruhi oleh Rasa Ingin Tahu manusia dan manusia tersebut tidak henti-hentinya mencari sesuatu yang baru, demi masa depannya. Kemudian Rasa Ingin Tahu inilah yang menjadi penentu arah dari pengembangan ilmu pengetahuan selanjutnya, sampai spesifiknya.
   Sebagai produk berpikir, rasa ingin tahu tak kunjung henti merasuk jiwa manusia, apalagi manusia yang hidup di era globalisasi ini. Setelah terpenuhi suatu kebutuhan ingin tahu, timbul kebutuhan ingin tahu lainnya. Hal ini memaksa manusia untuk terus berpikir dan terus menjawab rasa ingin tahunya. Akibatnya muncul berbagai ragam pikiran dan rasa ingin tahu dan sebagai hasilnya berkembang berbagai macam pengetahuan, yang kita rasakan saat ini.
   Semoga generasi muda saat ini juga terus memiliki Rasa Ingin Tahu yang tinggi, sampai menemukan suatu jawaban sesuai dengan perkembangan zaman.